"ELEKTABILITAS"
Kalabahi 2023 :
Elektabilitas.
Oleh: Eka Blegur.
Telinga publik semakin sering mendengar kosa kata elektabilitas (keterpilihan) saat ini. Sebuah kata yang sering "dipabrikasi" oleh surveyor dan konsultan politik.
Kata tersebut seakan memiliki kekuatan magis yang mampu menjadikan setiap narasi politik dikait-ikatkan pada kata tersebut. Bukan hanya para elit politik, rakyat umumpun juga menjadikan pembicaraan politiknya dibawah naungan kata elektabilitas.
Kekuatan magisnya juga mampu membuat politisi dan konstituennya "mabuk" ; tak lagi sadar dan tahu akan fungsi dari elektabilitas. Dan hal ini tak boleh dibiarkan !!!
Elektabilitas yang diamplifikasi oleh surveyor, konsultan politik dan kontestan kemudian disebarluaskan ke ranah publik selain dapat menumbuhkan "semangat" kontestan dan tim sukses tapi juga mampu mempengaruhi persepsi konstituen hingga pada akhirnya menetapkan putusan politiknya. Secara sederhana hal ini terlihat sebagai suatu yang "biasa dan wajar", namun tidaklah demikian kalau ditelisik lebih dalam.
Persoalannya bukan terletak pada elektabilitasnya tapi pada "yang mampu mempengaruhi persepsi publik". Publik (konstituen) pada akhirnya menentukan putusan politiknya tidak lagi didasari pada kualitas indikatorik kontestan. Inilah yang dimaksud dengan "mabuk elektabilitas".
Tingkat keterpilihan (elektabilitas) hanya berguna bagi kontestan dan tim sukses karena itu elektabilitas yang sebenarnya "tak mungkin" diamplifikasi ke publik. Ia berfungsi untuk menyusun langkah strategis sehingga tim sukses dapat bekerja relatif mudah untuk kemenangan kontestan. Maka kalau diamplifikasi pasti ada "maksud terselubung" dibaliknya.
Publik (konstituen) harus sadar bahwa elektabilitas tidak menggambarkan kualitas sebenarnya dari kontestan. Kesadaran ini penting agar konstituen tidak mendapatkan kontestan yang "BODOH" dan "MISKIN KUALITAS DEMOKRASI".
Namun penting juga meletakkan kohesi sosial sebagai faktor penentu kualitas demokrasi kita. Sebab elektabilitas itu kata kunci yang tepat apabila konstituen memiliki daya kritis yang kuat terhadap kandidat. Jadi bukan hanya diukur dari daya jangkau elektoral saja.
Selama ini elektabilitas dan kualitas memiliki jarak dan mungkin memiliki kajian diruang berbeda bagi publik. Padahal kualitas seharusny inheren dengan elektabilitas itu sendiri-merupakan bagian dari Literasi politik harus menjadi pemikiran penting kita semua. Dan itu lebih realistis daripada berharap kepada elite "penyumbang" lembaga survey agar mereka bisa menampilkan fakta data sebenarnya.
Bila metodenya benar dan bertanggungjawab, maka hasil survey adalah gambaran real masyarakat dalam menilai calon. Berdasarkan hal tersebut maka Elektabilitas memang tidak dilekatkan pada kualitas calon, tapi pada kualitas publik (responden) dalam menilai calon.
Catatan:
1. Elektabilitas tidak sama dengan kualitas.
2. Bagi publik sebaiknya abaikan saja elektabilitas fokus saja pada kualitas kontestan.
3. Jangan tertipu pada amplifikasi elektabilitas.