JANGAN KHIANATI PELAYANAN KITA(Refleksi Minggu Paskah)
JANGAN KHIANATI PELAYANAN KITA
(Refleksi Minggu Paskah)
Pengkhianatan Yudas dalam narasi Matius 26:14-16 mengingatkan bahwa keputusan untuk berbuat jahat (secara spesifik pengkhianatan) lahir sebagai keputusan manusia. Matius memungkinkan kita untuk menangkap pesan itu, yang mungkin berbeda dengan Injil lain.
Yudas, artinya terpuji (dari kata Yehuda), tidak menampilkan kualitas yang sebagaimana arti namanya. Dia merepresentasikan kehidupan manusia yang hanya mencari segala sesuatu demi kepentingannya sendiri. Dia menghampiri para imam kepala dan berinisiatif untuk mendapatkan keuntungan dengan menyerahkan Yesus, Sang Guru, seseorang yang kepadanya seluruh dedikasi hidup seorang murid seharusnya dipersembahkan. Uang, telah menjadi tuan bagi Yudas. Ia telah mengubah cara pandang Yudas terhadap Yesus (Perhatikan Matius 6:24). Sang Guru dipandang rendah, mungkin hanya seharga seorang budak di masa Perjanjian Lama (30 keping perak, bdk. Kel. 21:32).
Sikap Yudas yang adalah murid Yesus, orang yang ada di sekitar Yesus, dipandang sebagai pengikut utama Yesus, justru berperilaku sangat kontras dengan sikap seorang perempuan no name yang menghargai dan menghormati Yesus dengan memecahkan buli-buli pualam yang berisi minyak wangi yang mahal dan mengurapkannya ke kepala Yesus (tindakan perempuan ini sendiri dikecam oleh murid-murid Yesus, Injil Yohanes menyebut nama Yudas yang mengomentari tindakan perempuan itu sebagai tindakan pemborosan dan tidak memikirkan kelompok orang miskin) dalam Matius 26:6-13. Tampaknya Matius dengan sengaja mengontraskan kedua kisah ini. Robert Alter mengungkap bahwa dibalik gaya retoris seorang penulis yang mengungkap sebuah ironi tersemat pesan implisit dalam narasi yang penting untuk diperhatikan.
Refleksi penting dari kisah pengkhianatan Yudas mengingatkan bahaya dari menempatkan keinginan manusia (entah uang, kekuasaan atau keinginan manusia lainnya) dan bukan kehendak Allah, sebagai pusat dari segala gerak hidup pelayanan kita baik dalam lingkup hidup bersama, pelayanan umat maupun organisasi gereja. Hal tersebut akan melahirkan perilaku pengkhianatan pada nilai-nilai kesetiaan, relasi sosial dan kebenaran.
Berbagai kekacauan di dalam hidup bersama maupun gereja dalam lingkup organisasi dan menimbulkan dinamika yang mungkin oleh sebagian orang tak enak terlihat di ruang publik hari-hari ini, lahir sebagai fenomena dari ketimpangan sikap dalam mengelola kepentingan yang di dorong oleh rasa ingin yang mengangkangi.
Tidak semua orang yang berdiri dan membicarakan ide kehormatan, kebenaran dan keadilan adalah orang yang sungguh-sungguh memperjuangkan kebenaran. Sikap-sikap seperti di atas itu hanya dibangun untuk menutupi kecurangannya. Itulah kemunafikan. Jika jujur, kita semua sangat dapat tergelincir dalam lubang yang sama. Kita rentan. Yudas merefleksikan persoalan manusia di sepanjang zaman. Kesadaran pada kerentanan akan menolong kita untuk sungguh-sungguh memperhatikan dengan baik-baik sisi gelap itu. Mari, jangan rusak pelayanan kita. Jangan rusak gereja kita. Jangan rusak organisasi kita dengan segala bentuk pengkhianatan dengan menjual kebenaran demi kepentingan diri sendiri dan ego kekuasaan. Tuhan tolonglah kami. Tuhan selamatkanlah kami! Tuhan kiranya menolong kita menyambut dan merayakan Paskah tahun ini.
Paskah 2023
Eka P Blegur