ANATARA NATAL & PASKAH
Fakta empiris menunjukkan bahwa, dari tahun ke tahun, terkesan bahwa orang Kristen ‘lebih mengistimewakan’ Natal ketimbang Paskah. Setidaknya, dalam selebrasinya, ada kesan antusiasme yang tinggi pada saat menyambut perayaan Natal. Tetapi sebaliknya, keadaan adem ayem justru terlihat saat menyambut Paskah.
Dalam bukunya berjudul Selamat Paskah, 33 Renungan Paskah, Andar Ismail (2001:72-74) mengkritisi keadaan tersebut secara implisit. Menurutnya, ibarat novel, keempat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) menempatkan kisah kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus sebagai klimaksnya. Sedangkan narasi tentang kelahiran-Nya, hanya Matius dan Lukas yang menggambarkannya secara terbatas.
Pada halaman 72, Andar Ismail meulis: “Kitab-kitab Injil ditulis bukan karena Yesus telah dilahirkan dan disalibkan, melainkan karena Ia telah dibangkitkan..
jika seandainya Yesus lahir dan mati, tetapi tidak dibangkitkan, maka kitab-kitab Injil tidak akan ada. Itu berarti bahwa iman Kristen tidak akan ada, dan Gereja Kristen tidak akan berdiri."
Dalam uraian selanjutnya, Andar menjelaskan bagaimana gereja mula-mula begitu mengistimewakan Paskah. Pada waktu itu orang Kristen merayakan Paskah pada setiap hari Minggu sebab pada hari Minggulah Yesus bangkit dari antara orang mati. Perayaan Paskah sekali dalam setahun baru ditetapkan dalam Konsili Nicea pada tahun 325 M. sementara tentang Natal, perayaan hari kelahiran Yesus Kristus yang jatuh pada setiap tanggal 25 Desember itu baru mulai dilakukan pada tahun 336 M.
Kemudian, pada bagian akhir dari renungan nomor 25 tersebut, seakan bermaksud mendorong orang Kristen agar ‘berlaku adil’ terhadap Paskah, Andar menulis: “Soalnya bukanlah bagaimana kita mengurangi kemeriahan Natal, melainkan bagaimana menambahkan kemeriahan Paskah. Bahkan, sebenarnya bukan menambahkan, melainkan memulihkan. Sebab pada awal lahirnya gereja, Paskah telah dirayakan sebagai pusat perayaan Kristen."
Porsi pemberitaan atau narasi tentang Paskah yang melebihi Natal itu tidak hanya ditampilkan di dalam kitab-kitab Injil, sebagaimana ditunjukkan kepada kita oleh Andar Ismail, melainkan terlihat pula di dalam seluruh pemberitaan Perjanjian Baru. Tema-tema pemberitaan tentang penyataan kasih Allah kepada manusia berdosa lebih banyak dibahas terkait dengan Paskah, bukan Natal, misalnya di dalam Yohanes 3:14-18 dan Roma 5:6-11. Rasul Paulus membanggakan Yesus Kristus atas kematian dan kebangkitan-Nya, bukan atas kelahiran-Nya (Filp.3:1-11).
Pada hari-hari menjelang perayaan Paskah ini marilah kita memberikan perhatian yang lebih, setidaknya dalam bentuk perenungan dan penghayatan, terhadap pengenalan kita kepada Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit bagi kita, mencontoh rasul Paulus yang berkata: “Yang kukehendaki ialah menganal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati." (Filp.3:10-11).
Selamat beraktivitas dalam sepekan dan Selamat menyambut Paskah. Doa saya menyertai, dan Imanuel! Tuhan Yesus memberkati kita semuanya. Amin!