politik identitas, demokrasi lokal (ALOR).

ALOR 2023


Politik Identitas Dalam Perspektif Demokrasi Lokal (ALOR).
Oleh : Eka Blegur 

Ada yang Anti politik identitas, sementara basis kita Etnis dan kesukuan.
Politik identitas itu tidak selalu dihujamkan secara kasar dan brutal, adakalanya secara akademik dan terlihat intelektual.

Politik Identitas, Jika ada yg bercerita soal itu maka ceritanya tidak menarik sebab identitas itu suda menjadi hak paten setiap orang setelah dia lahir hingga meninggal dunia identitas itu tetap ada, politik edentitas itu akan selalu di pakai oleh setiap orang bukan cuman dalam politik malainkan semua aspek kehidupan sosialnya, anda keliru jika menaruh identitas sebagai salah satu indikator kemunduran demokrasi kerna demokrasi dan identitas tidak bisa di lepas pisahkan justru yg harus di benahi adalah cara berfikir dalam sistem demokrasi kita yg syarat dengan kepentingan oligarki. 

Dalam struktur masyarakat Indonesia, khususnya Kabupaten Alor yang terbagi atas berbagai ragam ras, budaya,etnis, agama, sampai aliran kepercayaan mengisyaratkan tentang konstruksisosial  yang terbentuk merupakan pengejawentahan dari pluralisme Bangsa Indonesia yang telah dikemas dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika"  ataukah pengejawentahan dari pluralisme di kabupaten Alor  yang dikemas dalam semboyan "Taramiti Tomi Nukku " Semboyan tersebut berfungsi sebagai alat pemersatu bangsa dari ancaman disintegrasi yang selalu mengintai dalam realitas kebangsaan Indonesia maupun kebangsaan orang Alor dewasa ini.

Persatuan itu ada sebab ada  perbedaan
Maka jangan hilangkan perbedaan hanya untuk mencapai persatuan.

Tetapi episode kehidupan perpolitikan berbangsa dan bernegara Indonesia akhir – akhir ini Khusus pada Politik Lokal (Alor) dihadapkan pada permasalahan menguatnya sentimen primordialisme yang telah merambah di segala sektor kehidupan masyarakat tanpa terkecuali.  Wacana tersebut semakin kentara, ketika kontestasi politik sudah di ambang pintu.Politik identitas yang sejatinya merupakan perjuangan rakyat dalam mengaktualisasikan karakteristik khasnya sebagai bagian untuk saling memperkaya dialektika wacana dalam konteks kompetisi politik, berubah menjadi ajang untuk saling mengunggulkan dominasi kelompoknya atas kelompok lain.  Kontestasi yang seharusnya saling beradu gagasan dan konsep yang konstruktif, tetapi  malahan saling menjatuhkan lawan dengan isu  yang meperkeruh pola Perpolitikan yang terkesan menunjukkan sifat yang destruktif bagi pembangunan Di Kab Alor.

Mobilisasi pemilih yang didasarkan pada kesamaan identitas suku, agama, budaya, bahasa, dan wilayah merupakan hasil dari pilkada secara langsung. Dalam perjalanannya identitas yang dimiliki oleh setiap individu tidak terlepas dari kelompok masyarakat dimana individu tersebut berinteraksi. Politik identitas adalah sesuatu yang bersifat hidup atau ada dalam setiap etnis, dimana keberadaannya bersifat laten dan potensial, dan sewaktu-waktu dapat muncul ke permukaan sebagai kekuatan politik yang mendominasi Dalam pemilihan umum di Kabupaten Alor   (tingkat lokal ) maupun nasional, kesamaan identitas atau karakteristik sering dijadikan rujukan untuk mendukung kandidat tertentu. Oleh karennya  persaingan yang tampak dalam kegiatan pemilihan umum adalah persaingan identitas etnis, bukan persaingan visi-misi. Pemilihan umum secara langsung sebagai tolak ukur berdemokrasi pada aras lokal diharapkan dapat menjadi momentum pergantian kepemimpinan secara damai dan sebagai sarana pendidikan politik bagi segenap masyarakat lokal. Pilkada jangan sampai menempatkan masyarakat pada kotak-kotak sentiment agama maupun kesukuan/etnis (primordial), hal tersebut dapat menciptakan konflik horizontal antar anggota masyarakat dan berujung pada kekerasan.

Namun Semua Berpolitik dengan cara yang sama, jadi jangan arahkan cocot dan corongmu hanya pada  ketika bicara politik identitas. 

Politik identitas adalah sebuah alat politik suatu kelompok seperti etnis, suku, budaya, agama atau yang lainnya untuk tujuan tertentu, misalnya sebagai bentuk perlawanan atau sebagai alat untuk menunjukan jati diri suatu kelompok tersebut. 
 Identitas dipolitisasi melalui interpretasi secara ekstrim, yang bertujuan untuk mendapat dukungan dari orang-orang yang merasa "sama" baik secara ras, etnisitas, agama, maupun elemen Lainnya. Puritanisme atau ajaran kemurnian atau ortodoksi juga berandil besar dalam memproduksi dan mendistribusikan ide "kebaikan" terhadap anggota secara satu sisi, sambil di sisi lain menutup nalar perlawanan atau kritis anggota kelompok identitas tertentu. Juga ada yang mengatakan Politik identitas  merupakan politik yang fokus utama kajian dan permasalahannya menyangkut perbedaan-perbedaan yang didasarkan atas asumsi-asumsi fisik tubuh, politik etnisitas atau primordialisme, dan pertentangan agama, kepercayaan, atau bahasa.
Politik identitas hadir sebagai narasi resisten kelompok terpinggirkan akibat kegagalan narasi arus utama mengakomodir kepentingan minoritas, 

secara positif, politik identitas menghadirkan wahana mediasi penyuaraan aspirasi bagi yang tertindas. Fitur dikotomi dikotomi oposisional menjadi fondasi utama yang membedakan perasaan kolektivitas ke-kita-an terhadap yang lain. Tetapi kenyataannya, pada tataran individual pada era modernisasi yang serba mekanik, muncul  "kegagapan’" untuk memahami struktur masyarakat yang plural, maka Konflik semakin meningkat. Pendeknya, terjadi ketidaksesuaian imajinasi sosial tentang kehidupan sehari-hari manusia modern dan interaksinya dengan masyarakat umum. Politik identitas dianggap sebagai senjata yang kuat oleh elit politik untuk menurunkan popularitas dan keterpilihan rival politik mereka atau upaya untuk mendapatkan dukungan politik dari publik bahkan sudah menjadi Hegemoni dalam perpolitikan, Isu etnis dan agama adalah dua hal yang selalu masuk dalam agenda politik identitas para elit di Indonesia, terutama kondisi masyarakat Kabupaten Alor  di mana suasana primordialisme dan sektarianisme masih cukup kuat sehingga sangat mudah untuk memenangkan simpati publik, memicu kemarahan dan sentimen massa dengan menyebarkan isu-isu etnis, agama dan kelompok tertentu. 

Kita bisa melihat Pada akhir - akkhir ini politik identitas muncul dalam banyak rupanya mulai dari feminisme di eropa gerakan proletar di Amerika Latin, gerakan anti-apartheid di Afrika, pergolakan zionisme vis a vis pengakuan bangsa Palestina, gerakan summer spring di Timur Tengah, dorongan pemekaran wilayah berasas etnis atau suku hingga gerakan separatisme di negara kita adalah wajah-wajah dari politik identitas. Begitu luasnya spektrum politik identitas, dari otoritarian hingga demokrasi, dari kesetaraan hingga keberpihakan, dari modern hingga kearifan lokal, dari negara bangsa hingga negara agama.




Postingan populer dari blog ini

Resolusi Konflik dalam perspektif Psikologi Lintas Budaya serta Kearifan Lokal sebagai Basis Komunikasi Pemerintah dalam Penyelesaian Konflik Sosial dan Komunal

Klaim Aliran Empirisme dalam Proses Memperoleh Kebenaran

Klaim Aliran Rasionalisme