Modernisasi melemahkan kultur Desa
Modernisasi dan Lunturnya Kultur Desa
Situasi Dan Kondisi kali ini tidak seperti Kondisi dimasa lampau. kali ini saya merasakan kembali yang namanya Perubahan Kondisi Di Kampung halaman saya terletak di salah satu desa, kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor Terakhir saya berkunjung pada tahun 2023 dimana sekarang suda Berapa tahun silam. Bukan jangka waktu yang tdk lama. Namun dalam kurun waktu yang singkat tersebut, telah terjadi modernisasi yang terjadi sangat cepat pada desa saya, dimana hal itu membuat saya agak terkejut. Apa yang saya tulis merupakan refleksi dari atas apa yang saya lihat di desa saya. Apa yang saya tulis sangat mungkin tidak terjadi di desa lain karena adanya variabel lainnya.
Modernisasi : Sisi Negatif dan Positif
Menurut Koentjaraningrat, modernisasi merupakan sebuah usaha untuk menyesuaikan dengan zaman dan konstelasi dunia.
Modernisasi seperti halnya dua sisi koin, dimana di satu sisi memberikan dampak positif dan sisi lainnya memberikan dampak negatif. Sisi positif modernisasi yang terjadi di desa saya, antara lain dibukanya jalan-jalan baru yang telah diaspal dimana terakhir saya ke sini, desa ini masih terisolir dengan kondisi jalanan berkontur bebatuan. Jalanan baru yang dibuka dan dengan kondisi bagus membuat intensitas kendaraan yang lalu lalang kian meningkat. Masyarakat juga menjadi antusias untuk membeli kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Implikasi lainnya, perekonomian desa juga semakin meningkat, sebab masyarakat kini dapat menjual hasil kebun, seperti kayu, dan buah-buahan, sayuran dan sejenis makanan Lokal ke kota.
Selain itu berdasarkan penuturan famili yang menjadi guru dan perangkat desa tingkat partisipasi sekolah juga kian meningkat. Angka putus sekolah turun drastis. Masuknya sinyal telepon dan internet ke desa juga memberikan dampak positif. Beberapa masyarakat di sini menjadi pengusaha lewat daring. Mereka menjajakan berbagai komoditas yang hanya ada di sini. Masyarakat juga semakin melek informasi dan teknologi.
Namun di sisi lain semua modernisasi itu memiliki dampak negatif. Kondisi jalan yang baik dan akses yang terbuka ternyata menimbulkan masalah. Banyak terjadi kecelakaan di desa saya. Kecelakaan terjadi karena masyarakat yang tidak tertib mengendarai kendaraan bermotor mereka. Rata-rata kecelakaan diakibatkan human eror, seperti tidak menggunakan helm dan memacu kendaraan di atas kecepatan rata-rata. Terbukanya akses internet membuat anak-anak usia sekolah di desa telah mengenal penggunaan gawai pintar. Namun penggunaannya masih lebih banyak hanya sebatas hiburan.
Hal negatif lain yang terjadi di desa saya, yaitu hilangnya kegiatan bhakti desa. Bhakti desa merupakan kerja bersama untuk merawat lingkungan. Di daerah lain menyebutnya dengan kerja bhakti atau kerja gotong royong. Kegiatan Bhakti Desa sudah beberapa tahun ini tidak dilaksanakan. Hal ini membuat lingkungan desa menjadi kurang terurus. Krisis air menjadi macet, semak belukar tinggi, dan semua itu berdampak pada lingkungan. Ketidakmampuan Pemerintah Desa dalam mengelola Potensi Lahan di desa. Pemerintah desa setempat lebih sering mempekerjakan orang untuk merawat lingkungan. Tokoh masyarakat juga dikabarkan enggan bergerak dan menggerakkan masyarakat. Jika hal ini terus terjadi mungkin saja beberapa tahun ke depan kondisi desa dan masyarakatnya akan jauh berubah.
Lunturnya Kultur Desa : Perubahan yang DekonstruksiMenurut Sugianto dalam bukunya berjudul Urgensi dan Kemandirian Desa salah satu fungsi Desa ialah pelestari kearifan lokal. Banyak sekali kebudayaan lokal yang hingga kini belum di lestarikan di daerah pedesaan. Harusnya Dengan adanya desa, kebudayaan lokal akan senantiasa terjaga dan terus berkembang.
Tidak berbeda dengan Sugiarto menurut saya, desa merupakan bagian dari 'batas-batas pembaratan'. Saya melihat jika secara historis desa-desa di pedalaman Jawa merupakan benteng terdalam dari pengaruh-pengaruh asing. Masyarakat yang berada di pedalaman Khusus Alor Pantar mengambil sikap hati-hati dan kritis terhadap kebudayaan yang datang dari luar, yang notabene masuk dari pesisisr. Dengan kata lain jika menggunakan konteks tersebut, maka Desa seharusnya menjadi 'batas terdalam' yang menjaga budaya tradisional dari gempuran budaya modern yang dekonstruktif.
Modernisasi yang kian gencar telah melemahkan fungsi Desa, sebagai 'benteng terdalam' yang menjaga kearifan lokal, dimana semestinya harus terjaga dan terlestarikan. Kembali pada terjadinya perubahan di Desa saya, akses jalan yang terbuka dan masuknya pengaruh Teknologi Informasi Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah dua penyebab semakin lunturnya budaya pedesaan. Secara umum nampak ketidaksiapan masyarakat desa secara psikologis terhadap perubahan sosial yang cepat. Dan terakhir, salah satu penyebab lain yang membuat semakin cepatnya dekonstruksi kebudayaan adalah perubahan paradigma masyarakat desa, akibat kesenjangan yang ditampilkan masyarakat perkotaan dari dunia virtual dan layar kaca. Paradigma salah yang beranggapan bahwa mereka adalah masyarakat kolot, dan teralienasikan.