Mendewakan Gelar Akademis
Katakanlah saja "feodalisme akademis" Saya tdk tahu apakah istilah ini pas untuk menggambarkan kondisi sebagian masyarakat kita yang kini tengah berlomba berebut gelar akademis sebagai bagian dari status sosial. Tapi yang terlihat, memang gejolak tengah terjadi. Bursa gelar meroket. Dan banyak perguruan tinggi pun menyambut. Ada semacam "demand" ada "supply". Maka jadilah transaksi jual beli kulit, tanpa substansi. Itulah mengapa feodelisme akademis menguat.
Gelar menjadi perebutan, menjadi acuan berlebihan dan kebanggaan. Banyak orang sudah lupa pada substansi dan makna sesungguhnya. Lihatlah para penyandang yang tdk malu menyematkan, walau ia raih tanpa keringat dan otak.
Apapun yang telah terjadi, kini saya semakin yakin feodalisme akademis telah makin merasuk. Gelar akademis telah mewabah dan meluas, dijadikan simbol status sosial yang semakin "absurd". Jangan jangan sebagian besar masyarakat juga terjerumus mengikuti arus ini. Akibatnya, pragmatisme muncul. Dan gelar menjadi komoditi yang dijual-belikan tanpa lagi memiliki nilai kehormatan dan keagungan. Lihatlah gelar itu semakin luas menghiasi undangan perkawinan hingga batu nisan di kuburan. Gelar telah melekat, menjadi penghias kepalsuan?
SEKEDAR SEDIKIT PESAN UNTUK YANG KULIAH DAN BERGELAR
Katakanlah Adam dan Hawa, kemarin pagi, 26 Agustus 2023 mendatang Bapak dan Ibu ikut menyaksikan kamu dan teman-temanmu, satu per satu, melangkah perlahan ke depan, naik ke podium mendapatkan selembar kertas ijasah yang menyatakan kamu sebagai lulusan terbaik Itulah barangkali gelar akademis yang saat ini kamu berhak sandang. Secara sepintas, gelar itu tentu memberi kebanggaan. Itulah salah satu dari sekian banyak gelar yang banyak diperebutkan orang untuk disandang sebagai bagian peningkatan status sosial dan kewibawaan.
Di tengah rasa syukur dan bangga Bapak dan Ibu atas kerja keras dan ketekunanmu menuntut ilmu hingga kamu mendapat pengakuan sebagaimana tertera dalam secarik kertas itu, namun ketahuilah, gelar bukanlah tujuan dari pendidikan yang sesungguhnya. Janganlah kamu menjadi bagian orang yang gemar mengumpulkan gelar untuk dijadikan perhiasan kesombongan dan keangkuhan. Ingatlah di atas langit masih ada langit yang lebih tinggi dan langit itu berlapis-lapis tanpa batas. Jadi, janganlah kamu jadikan gelar sebagai bagian dari feodalisme baru yang kini tampak tumbuh subur meraja-lela di negeri kita. Jangan pula kamu memandang gelar itu sebagai batas yang memisahkan kamu dengan jutaan saudara-saudara kita sebangsa yang kini belum beruntung mendapat kesempatan pendidikan yang layak.
Karena apa pun gelar yang kamu raih, itu sekedar tanda bahwa kamu kini dapat memulai pengabdian pada masyarakat yang secara khusus dapat difokuskan pada bidang ilmu yang sudah kamu tekuni. Maknailah gelar yang tertera dalam kertas itu sekedar tanda tahapan proses menyerap ilmu pengetahuan yang pernah kamu lalui di tengah lautan ilmu yang belum kamu fahami. Ketahuilah, gelar apa pun yang kamu sandang, bukanlah bukti manfaat seseorang dalam menjalani kehidupan.
Gelar bukanlah tanda banyaknya Perbuatan hal baik , perbuatan yang telah kamu lakukan, atau apalagi tingginya Rezeki di hadapan Tuhan. ibadahmu penilaiannya terletak tak saja pada banyaknya perbuatan baik, namun juga keikhlasan dan ketulusan. Raihlah ilmu kehidupan yang sesungguhnya. Jangan lengah dengan simbol-simbol sampingan yang terkadang penuh tipuan. Keluasan ilmu menuntut tanggung-jawab peran dalam menjalani hidup. Tujuan hidup yang sesungguhnya adalah perbuatan baik yang dilakukan dengan cerdas dan penuh keikhlasan. Semoga kamu selalu diberi kejelasan dalam melihat makna kehidupan sebenarnya. Raihlah pengetahuan lebih tinggi, dan mulailah perbanyak kebaikan pada sesama kita dan alam yang menjadi tempat kita hidup. Doa Bapak-Ibu yang tak pernah henti.
Tetap Rendah Hati, Rendah Hati, Dan Rendah Hati.