Masyarakat Informasi dalam Ketidakpastian

Masyarakat Informasi dan Problem Ketidakpastian


Kita sedang hidup di era baru peradaban manusia yang ditandai dengan keterhubungan manusia dalam jaringan yang bersifat global. Keterhubungan manusia dalam jaringan yang bersifat global membentuk dunia menjadi semacam "global village"(kampung global). Sebagai efek lanjutnya, proses komunikasi dapat terjalin dengan begitu mudah tanpa terikat dengan batas-batas spasial (lokalitas) dan waktu. Segala sesuatu bisa terjadi secara "real time"atau serempak karena masyarakat sudah terintegrasi ke dalam jaringan (Castells, 2010: 406).

Yang mendorong terjadinya proses komunikasi yang bersifat "real time"pada era ini ialah penemuan teknologi-teknologi konektivitas. Teknologi-teknologi konektivitas berpengaruh sangat besar terhadap ledakan-ledakan jumlah pertukaran informasi dan komunikasi antar-manusia. Ini menjadi penanda kelahiran era baru yang disebut "era revolusi informasi" atau "abad informasi" yang menggantikan era revolusi industri. Dalam abad/revolusi informasi, masyarakat ditransformasi menjadi sebuah "masyarakat informasi" (information society) dan ekonomi ditransformasi menjadi ekonomi pengetahuan (Andrew Heywood, 2017). 

Tema masyarakat informasi ini akan dielaborasi lebih lanjut dalam tulisan ini. Pada bagian akhir, Penulis juga akan mengulas problem ketidakpastian sebagai salah satu kegelisahan dalam masyarakat informasi. 

Masyarakat Informasi dalam Berbagai Perspektif

Secara konseptual, term "masyarakat informasi" (information society) adalah sesuatu yang cair. Tidak ada suatu pemahaman atau konsep tunggal terhadap term ini. Ada yang menyorotinya dari sisi kuantitas informasi, yakni adanya ledakan jumlah pertukaran dan sirkulasi informasi. Sedangkan yang lain lebih menyoroti aspek kualitas informasi, yakni berhubungan dengan dimensi transformatif dari informasi terhadap hidup manusia. Kedua bentuk aksentuasi itu tentu selalu bisa diperdebatkan. Namun demikian, sebuah definisi yang baik secara subtantif mesti mampu menunjukkan hakikat dan sifat pembeda (differentia specifica) dari sesuatu yang didefinisikan. Dalam konteks inilah kita perlu mengajukan pertanyaan, apa yang membedakan masyarakat informasi dengan masyarakat sebelumnya? Apakah perbedaan itu terletak pada kuantitas informasi atau kualitas informasi saja atau keduanya? Jawaban atas pertanyaan ini membantu kita dalam merumuskan definisi substantif tentang masyarakat informasi. Kendati demikian, definisi tidak melulu bersifat substantif. Definisi juga bisa berupa definisi deskriptif. Definisi deskriptif membantu kita memahami karakteristik dari sesuatu dilihat dari berbagai sudut pandang. 

Penjelasan Frank Webster dalam buku "Theories of the Information Society" (2006: 8-21) mungkin dapat membantu kita memahami definisi substantif dan deskriptif dari "masyarakat informasi". Webster mengajukan lima kriteria bagi definisi "masyarakat informasi". Kelima kriteria itu ialah kriteria teknologis, ekonomis, okupasional, spasial, dan kultural. 

Pertama, kriteria teknologis (technological). Konsepsi teknologis tentang masyarakat informasi menyoroti dampak transformasi dan inovasi teknologi komunikasi dan informasi (TIK) terhadap ledakan jumlah pertukaran informasi yang mulai tampak sejak tahun 1970-an. Kemunculan teknologi-teknologi baru komunikasi dan informasi dalam konsepsi teknologis menjadi indikator paling kelihatan dari era baru yang disebut sebagai era informasi di mana masyarakat ditransformasi menjadi masyarakat informasi. 

Kedua, kriteria ekonomis. Kriteria atau pendekatan ekonomis memetakan pertumbuhan nilai ekonomis dalam aktivitas informasi. Dalam konteks ini, kuantifikasi signifikansi ekonomis informasi diperhitungkan sebagai suatu pencapaian yang mengesankan. Jika seseorang dapat merencanakan peningkatan dalam proporsi produk nasional bruto (GNP) yang diperhitungkan oleh bisnis informasi, misalnya, secara logis ada titik yang memungkinkan seseorang dapat menyatakan pencapaian ekonomi informasi. Seperti dikatakan Jonscher (1999), kita berbicara tentang masyarakat informasi ketika sebagian besar kegiatan ekonomi diambil alih oleh kegiatan informasi daripada pertanian subsisten seperti dalam masyarakat pre-industri atau manufaktur industri seperti pada masyarakat industri.

Ketiga, kriteria okupasional. Menurut Webster, kriteria okupasional ini merupakan pendekatan "favorite"para sosiolog. Itu misalnya tampak dalam karya Daniel Bell, "The Coming of Post-Industrial Society: A Venture in Social Forecasting" (1973). Daniel Bell memberikan penekanan pada peran sentral informasi dan pengetahuan dalam masyarakat sebagai basis pengidentifikasian masyarakat modern sebagai "masyarakat informasi". Namun, ketimbang menggunakan istilah "masyarakat informasi", Daniel Bell lebih tertarik menggunakan istilah "masyarakat post-industrial" (post-industrial society/PIS) (Frank Webster, 2006: 32). 

Penggunaan istilah PIS menurut Daniel Bells merujuk hanya pada perubahan di dalam struktur sosial, yakni struktur ekonomi, pekerjaan, dan sistem stratifikasi, tetapi bukan struktur politik dan struktur budaya. Dalam bidang pekerjaan, misalnya, perubahan struktur itu sangat tampak. Jika dalam masyarakat pre-industrial, masyarakat mayoritas bekerja sebagai petani, kemudian dalam masyarakat industrial mayoritas masyarakat bekerja dalam industri pabrik maka dalam  masyarakat post-industrial mayoritas masyarakat bekerja dalam industri jasa atau layanan (Webster, 2006: 39).

Hidup, dalam masyarakat post-industrial, menjadi "a game between persons", bukan lagi "a game against fabricated nature" seperti dalam masyarakat industri. Yang penting sekarang bukan lagi otot mentah atau energi, melainkan informasi (Daniel Bell, 1976: 576). Para pekerja "kerah-biru"/blue-collar work (manual) pun mulai digantikan dengan para pekerja "kerah-putih"/white-collar work (non manual). Karena bahan mentah kerja non-manual adalah informasi maka peningkatan substansial dalam pekerjaan informasi semacam itu menurut Bell dapat menjadi basis bagi deklarasi kedatangan masyarakat informasi.

Keempat, kriteria spasial. Pendekatan atau kriteria spasial memberikan aksentuasi pada dimensi geografis dari ruang. Pengorganisasian ruang dan waktu tidak lagi dibatasi oleh jarak spasial karena masyarakat sudah terhubung ke dalam jaringan. Penekanan utamanya adalah pada jaringan informasi yang menghubungkan lokasi yang berbeda dan dampaknya yang mendalam pada organisasi ruang dan waktu. Menurut Webster (2006), ini telah menjadi indeks yang sangat populer dari masyarakat informasi dalam beberapa tahun terakhir karena jaringan informasi telah menjadi fitur yang menonjol dari organisasi sosial. 

Lebih lanjut, Webster (2006) menegaskan bahwa merupakan hal yang biasa untuk memberikan aksentuasi pada sentralitas jaringan informasi yang dapat menghubungkan lokasi yang berbeda di seluruh dunia. Karena jaringan elektrik melewati seluruh negara untuk diakses sesuka hati oleh siapa saja dengan koneksi yang sesuai maka dapat dibayangkan sekarang sebuah "wired society" yang beroperasi di tingkat nasional, internasional, dan global untuk menyediakan "ring informasi utama" ke setiap rumah, toko, universitas, dan kantor.

Kriteria spasial masyarakat informasi sebenarnya merupakan gagasan yang dipopulerkan oleh Manuel Castells dalam "The Rise of the Network Society" (1996, 2010). Menurut Castells (2010: 406), jalan raya elektronik menghasilkan penekanan baru pada arus informasi, sesuatu yang mengarah kepada revisi radikal hubungan ruang-waktu. Dengan terintegrasi ke dalam jaringan, ruang spasial (lokalitas) mengalami peluruhan dan digantikan oleh ruang arus atau ruang yang mengalir (space of flows). 

Seorang yang tinggal di Amerika, misalnya, tidak lagi merasa jauh dengan temannya yang tinggal di Indonesia karena mereka berada dalam satu jaringan yg tak ber ruang. Mereka dapat berkomunikasi dan bertukar informasi kapan saja. Demikian pun dengan waktu. Saat ini kita memasuki masa tak berwaktu. Perbedaan waktu antara kala lampau dan kala nanti sudah tidak lagi cukup relevan karena semuanya menyatu dalam real-time waktu kini (waktu serempak) (Agus Duka, 2017: 63).
 
Kelima, kriteria kultural. Konsepsi ini menurut Webster (2006) paling mudah diakui, tetapi paling sulit diukur. Semua orang sadar bahwa saat ini telah terjadi peningkatan yang luar biasa dalam difusi informasi. Penyebaran informasi jauh lebih masif daripada sebelumnya karena terjadi ledakan proliferasi media, baik media mainstream maupun media baru yang berbasis internet atau digital. Media-media itu menyajikan informasi yang beragam dengan segala macam inovasi dan daya tariknya. Semua itu menurut Webster membuktikan bahwa kita hidup dalam masyarakat yang sarat media. Media baru mengelilingi kita, menyajikan kepada kita pesan-pesan yang mungkin atau tidak mungkin kita tanggapi. Namun, sebenarnya lingkungan informasi jauh lebih intim, lebih membentuk kita, daripada yang disarankan media. 

Kendati ditandai dengan ledakan difusi informasi, secara paradoks, beberapa penulis menurut Webster justru menggambarkan masyarakat informasi sebagai masyarakat yang mengalami kematian tanda. Setiap hari memang kita diserbu oleh tanda-tanda di sekitar kita. Kita juga merancang diri kita sendiri dengan tanda-tanda itu. Bahkan kita tidak bisa lepas dari tanda-tanda ke mana pun kita pergi. Namun, hasilnya sangat aneh, ada banyak tanda, tetapi terjadi keruntuhan makna. Jean Baudrillard (1983: 95) menggambarkan kenyataan itu dengan mengatakan "semakin banyak informasi, semakin sedikit makna".

Postingan populer dari blog ini

Resolusi Konflik dalam perspektif Psikologi Lintas Budaya serta Kearifan Lokal sebagai Basis Komunikasi Pemerintah dalam Penyelesaian Konflik Sosial dan Komunal

Klaim Aliran Empirisme dalam Proses Memperoleh Kebenaran

Klaim Aliran Rasionalisme